Efesus 5:21 - 6:9 part FINAL


Jadi, pada keseluruhan dari prikop ini, Paulus mengangkat tema berjalan dalam ketaatan untuk jemaat di Efesus. Untuk menggambarkan ketaatan ini, Paulus memberikan tiga contoh relasi yang sering kali memiliki masalah dalam ketaatan: suami dan istri, orang tua dan anak dan hamba dan tuannya. Dalam tulisannya, Paulus selalu membandingkan masing-masing relasi kepada bagaimana Tuhan berelasi dengan umatNya. Dari sana lah kita bisa melihat berbandingan dengan standar sejati yang absolut.

Hal pertama yang harus kita waspadai dari perikop ini adalah bagaimana dunia berdosa ini berusaha untuk membalikkan ordo yang diciptakan Tuhan sendiri. Tuhan menciptakan ordo dimana yang di bawah haruslah taat kepada yang di atasnya, sedangkan yang diatas harus mengasihi yang di bawah. Hal ini sendiri digenapi oleh hubungan Kristus dengan gereja. Hanya jika kita mengacu kepada standar inilah kita bisa menghindari kekacauan yang timbul dari pergeseran ordo ini.

Hal kedua yang harus dipelajari adalah bagaimana kita sebagai orang yang memiliki posisi di bawah (istri, anak dan hamba) harus dapat taat kepada siapa yang diatas kita. Taat adalah hal yang sulit dilakukan oleh manusia. Setiap manusia memiliki keinginan masing-masing dan ingin keinginannya terlaksanakan. Hal ini menyebabkan seorang manusia sangat sulit untuk taat kepada orang lain, terlebih lagi taat dengan rela. Satu-satunya cara bagaimana kita bisa taat dengan rela adalah dengan mengingat kembali bagaimana Kristus telah mengasihi kita. Hanay dengan demikian, kita dapat mengasihi orang yang di atas kita dengan tulus hati seperti Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Hal yang terakhir yang perlu diingat adalah sedekat apapun kita dengan orang yang di bawah kita, kita harus dengan jelas memberikan batasan siapa yang memiliki ordo lebih tinggi. Hal ini harus dilakukan untuk mencegah terjadinya sisi ekstrim sebaliknya dari memberontak karena terlalu jauh. Jika kita terlalu dekat tanpa menyatakan siapa yang berordo lebih tinggi, maka ada kemungkinan untuk orang yang di bawah kita menajdi hilang respek terhadap kita dan menganggap kita setara. Hal ini sama saja dengan merusak ordo yang sudah ada sejak penciptaan dan akan menimbulkan kekacauan.

Kiranya kita semua boleh ikut berjalan bersama dalam ketaatan. Bukan ketaatan karena dipaksa, namun ketaatan yang rela dengan tulus dilaksanakan karena kita telah melihat terlebih dahulu bagaimana Tuhan mengasihi kita dan mengambil ktia sebagai umatNya.

Comments