The Spiritual Bridge Part 3: The Struggle


Jika sekarang kita sudah tahu bagaimana cara membangun jembatan spiritual ini, apakah masalah kita sudah selesai? Tentu saja belum. Karena untuk membangunnya, sekalipun kita sudah tahu cara bagaimana kita harus membangunnya, tetap ini bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Banyak pergumulan yang harus dilewati untuk mencapai titik dapat tunduk kepada kedaulatan Allah.

Seperti sudah disinggung di bagian sebelumnya, bahwa manusia akan sangat sulit sekali untuk dapat tunduk kepada autoritas dengan rela hati. Hal ini membawa kita pada hati yang bebal. Hati yang bebal ini adalah masalah yang menghalangi kita untuk membangun jembatan ini. Perjalanan untuk melembutkan hati yang bebal ini merupakan perjalanan yang panjang dan terus berlangsung tanpa akhir. Sekali saja kita berhenti mengingatkan diri kita untuk memiliki hati yang lembut, maka secara natural hati kita akan menentang autoritas Allah atas hidup kita. Oleh sebab itu, kita harus secara aktif meminta Roh Kudus menyadarkan kita akan kedaulatan Allah atas hidup kita dan menundukkan hati kita agar boleh taat kepadaNya.

Hal lain yang sering sekali terjadi tentu adalah permasalahan mematikan dosa. Berapa kali kita dalam hidup tetap melakukan hal yang salah walaupun hati kita sudah menegur kita? Berapa kali kita mengabaikan hati nurani yang sudah ditanamkah Allah dalam diri kita? Pasti hal ini terjadi berkali-kali. Hal ini dapat terjadi karena dua hal yang berkaitan: ketetapan hati yang mudah goyah dan kecintaan kita terhadap dosa. Ketetapan hati kita yang mudah goyah tentu dipengaruhi oleh faktor kedua yaitu kecintaan kita terhadap dosa. Namun ada hal lain yang lebih genting dari hal tersebut.

Kita sebagai manusia terbiasa untuk hidup mengandalkan diri kita sendiri dalam berbagai macam hal. Memang di suatu sisi kita dituntut untuk dapat hidup mandiri. Namun hal tersebut tidak akan berhasil dalam menetapkan hati. Tanpa campur tangan Tuhan melalui Roh Kudus dalam hidup kita, maka sekuat apapun kita membuat ketetapan hati kita untuk mematikan dosa, maka kita tetap akan gagal pada akhirnya. Mengandalkan hati nurani untuk menetapkan hati tidaklah cukup untuk membuat hati kita bertekad untuk menang terhadap dosa.

Faktor kedua ini adalah masalah arah hati kita. Hati manusia berdosa adalah hati yang jahat. Semua yang dikehendakinya pasti adalah jahat. Ketika kita bertobat dengan percaya kepada Kristus, arah hati kita harus berubah. Namun arah hati ini sering sekali kehilangan fokus terhadap apa yang mulia. Kita terlalu sering menoleh ke belakang dan kembali hati kita terpikat oleh apa yang kita tinggalkan. Hal inilah yang menyebabkan hati kita sering terpikat dengan dosa walaupun kita sudah bertobat. Pergumuluan untuk meluruskan arah hati kita ini juga merupakan pergumulan yang terus kita gumulkan. Setiap saat harus kita ingatkan hati kita untuk kembali ke arah yang benar.

Pergumulan yang kita harus jalani demi membangun jembatan ini tidaklah mudah. Hati kita harus benar-benar kita jaga setiap saat agar boleh suci dan mengarah kepada Tuhan saja. Seperti tertulis di Amsal 4:23, dari hati kita akan terpancarkan hidup kita. Jika hati kita serong, maka hidup kita akan serong, jika hati kita lurus, maka hidup kita juga akan lurus. Mari kita bergumul dengan benar terus-menerus sepanjang hidup, agar hidup kita boleh terus terjaga dan mengarah pada Tuhan saja.

SOLI DEO GLORIA!


Comments