Titus 1:1-4


Paulus membuka surat kepada Titus ini dengan salam pendek seperti yang biasa ia sampaikan pada surat-surat lain. Paulus menyatakan bahwa ia adalah pelayan Allah dan rasul dari Yesus Kristus menuliskan surat ini demi iman yang Allah berikan pada orang terpilih, pengetahuan mereka akan kebenaran yang sejalan dengan kesalehan mereka.

Adanya salam Paulus dalam surat-surat yang dikirimkannya merupakan hal yang lazim. Namun pada surat ini, Paulus menyatakan hal yang lain dari surat-surat lain. Ia menyatakan bahwa ia adalah pelayan Allah, atau lebih tepat budak Allah. Paulus biasanya menggunakan frase ‘pelayan Kristus’ dalam surat-suratnya. Hanya pada suratnya kepada Titus ini ia menyatakan bahwa ia adalah pelayan Allah. Frase pelayan Allah ini sering digunakan dalam perjanjian lama untuk orang-orang seperti Daud, Musa dan para nabi. Hal ini ingin menyatakan bahwa Paulus ada dalam daftar panjang orang yang disebut pelayan Allah. Hal ini memposisikan Paulus sebagai seorang budak dari Allah dan pada zaman itu, budak tidak boleh bertindak sesuai dengan kehendaknya sendiri. Harus ada perintah dari tuannya sebelum ia bergerak. Konsep penerimaan kepercayaan dari Allah ini diperkuat dengan pernyataan bahwa Paulus adalah seorang rasul Allah dalam dunia.

Satu hal yang kita dapat pelajari dari bagian ini adalah bagaimana Paulus menganggap dirinya sebagai budak. Pada abad pertama, seorang budak tidak memiliki autoritas untuk melakukan apapun tanpa izin dari tuannya. Hal ini juga berlaku bagi Paulus yang menyatakan dirinya budak Allah. Hal ini berarti Paulus dengan keinginan sendiri mengaitkan dirinya ke Allah dan tidak mau melakukan apapun tanpa petunjuk Allah.

Tentu benar-benar secara literal tidak melakukan apapun juga bukan hal yang benar. Namun kita sebagai umat Kristen lebih sering mengambil ekstrim satunya lagi dengan tidak pernah meminta petunjuk Tuhan dalam melakukan apapun dalam hidup kita. Kita sering merasa bahwa segala sesuatu adalah pilihan kita sendiri. Kita merasa bahwa hidup kita bukan urusan dari Tuhan. Justru disinilah kita salah. Hidup kita sejak awal diciptakan Tuhan untuk satu tujuan: memuliakan Dia. Tanpa mengatur hidup kita dengan baik dan mencari kehendakNya serta menjalaniNya, adalah mustahil seseorang dapat memuliakan Dia.

Marilah kita belajar menjadi orang yang terus mencari kehendak Allah. Jika kita menggumulkan pilihan-pilihan kita dengan serius, maka Tuhan akan memberikan jalan melalui FirmanNya kepada kita. Sehingga kita dapat mensinkronkan kehendak kita dengan kehendakNya dan memiliki hidup yang memuliakan Dia saja.


Comments