1 Tesalonika 5:12-28 part 7

Bagian selanjutnya dari surat Paulus ini memperingatkan bahwa janganlah kita sebagai umat Tuhan memadamkan api dari Roh Kudus dalam hidup kita. Dalam konteks jemaat Tesalonika, hal ini terjadi karena jemaat Tesalonika menolak interpretasi Injil yang disampaikan kepada mereka. Paulus mengatakan agar mereka jangan membencinya, melainkan mengujinya dan memegang apa yang baik.

Interpretasi Injil memang adalah suatu medan peperangan yang tidak ada habis-habisnya. Sejak zaman bapa-bapa gereja sampai sekarang, gereja sejati selalu diperhadapkan dengan peperangan interpretasi melawan bidat-bidat yang berkembang di masa masing-masing gereja. Oleh karena providensia Allah, maka Allah selalu menjaga interpretasi yang sejati sepanjang sejarah gereja. Maka kita tidak boleh meremehkan atau mengabaikan perang interpretasi ini dan mengatakan, “Yang penting hidup bahagia.” Karena hal ini persoalan berbagian dalam umat Allah atau menjadi yang Dia buang. Oleh sebab itu Paulus menyatakan janganlah kita membenci interpretasi-interpretasi ini. Karena memang mau tidak mau, pembacaan Injil haruslah kita interpretasikan. Tinggal permasalahannya adalah, bagaimana kita mengetahui interpretasi mana yang benar.

John Calvin yang menjadi motor penggerak dari gerakan reformasi membawa pesan bahwa kita harus kembali kepada Alkitab yang adalah Firman Tuhan sebagai pusat interpretasi. Maka kita dapat menyimpulkan, syarat dasar dari interpretasi yang valid adalah bahwa interpretasi tersebut harus sejalan dengan seluruh bagian dari Alkitab. Jika ada interpretasi baru yang tidak berdasarkan dari Alkitab, maka sudah pasti ajaran tersebut adalah bidat.

Kedua, seperti yang sudah dijelaskan di atas, Tuhan memimpin dan menjagai ajaran sejati dalam gereja sejati sepanjang sejarah gereja di dunia ini. Oleh sebab itu, sudah pasti bahwa ketika mereka menginterpretasi berdasarkan eksegese Alkitab, tidak mungkin interpretasi tersebut bertentangan dengan interpretasi sepanjang sejarah gereja. Memang belum tentu sama, namun pasti tidak bertentangan. Karena Tuhan sendiri mewahyukan diriNya kepada manusia secara bertahap dari zaman ke zaman. Hal ini membuat kita sadar bahwa mungkin interpretasi bapa-bapa gereja dulu tidaklah sempurna.

Terakhir, hal yang perlu kita perhatikan adalah, tujuan dari interpretasi ini haruslah satu, yaitu mengenal Allah lebih baik dan hidup seturut kehendakNya. Jika ada interpretasi yang tidak membuat kita mengenal Allah lebih baik, namun justru menekankan kekayaan, kemewahan, mujizat dan hal-hal serupa, hal tersebut sudah pasti bukanlah interpretasi yang benar. Karena Kristus selalu menekankan hidup yang memikul salib dan meneladani hidupNya.


Kiranya kita sadar dan peduli akan interpretasi-interpretasi yang beredar di dunia ini sekarang. Janganlah mau dibodohi dengan orang-orang yang mengatakan bahwa ia mendengar langsung suara Allah dan mengutarakan hal yang di luar Alkitab karena hal tersebut pastilah bidat. Mari kita semua kembali ke ajaran yang benar agar kita dapat mengenal Allah kita dengan lebih baik dan dapat hidup seturut dengan kehendakNya dalam hidup kita.


Comments