2 Tesalonika 2:1-12 part FINAL

Pada perikop ini Paulus hendak menyampaikan kepada jemaat Tesalonika kebenaran berkaitan dengan akhir zaman dan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya ke dunia ini. Jemaat Tesalonika pada surat Pualus yang pertama sedang dialami keraguan akan kemana saudara seiman mereka pergi ketika mereka meninggal dan melalui suratnya yang pertama, Paulus menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian pada surat kedua ini ditulis, masalah jemaat Tesalonika adalah adanya kabar-kabar palsu yang menyatakan bahwa akhir zaman itu telah tiba dan Paulus dengan jelas menyatakan pada perikop ini bahwa       akhir zaman tersebut tidak akan datang sampai timbulnya orang-orang yang mentuhankan diri mereka, namun Paulus memastikan bahwa pada akhirnya ketika nanti Kristus datang, Dia akan datang memusnahkan orang-orang yang tidak menTuhankan Dia. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia dituntut untuk selalu setia kepadaNya.

Jikalau kita merefleksikan hal ini kepada konteks zaman ini, kita haruslah melihat diri kita begitu pragmatis dengan kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Kita bahkan tidak peduli akan apakah Kristus akan datang atau tidak, karena hal tersebut Nampak begitu jauh bagi kita. Hal ini merupakan kesalahan yang fatal juga, karena kita banyak hidup hanya dengan berorientasi dengan hari ini dan tidak melihat apa yang nanti akan datang.
Hidup berorientasi pada zaman ini tentu bukan hal yang sepenuhnya buruk. Kita hidup berespon dari apa yang terjadi saat ini dan pada hari datang dalam jangka waktu yang singkat. Dengan berespon dengan benar, kita memang dapat hidup dengan baik. Namun hal tersebut tetap berbeda dengan orang-orang yang mengorientasikan hidup mereka pada kekekalan. Orang yang berorientasi pada kekekalan memiliki sumber api yang tidak terbatas. Mereka menghidupi hidup yang benar-benar dijaga selagi terus mengabarkan Injil dan tidak takut akan apa yang menghadang mereka dalam proses pengkabaran Injil.

Ambil contoh Stefanus yang mati dirajam batu oleh orang Israel sendiri. Dia dirajam batu bukan karena hal yang salah, melainkan justru karena melakukan hal yang benar. Dia tahu dengan pasti ketika ia sudah dibawa ke pengadilan, dia akan dihukum mati jika menyatakan kebenaran. Namun apakah itu menghentikannya untuk menyatakan Kristus? Bagaimana seorang Stefanus dapat memiliki hati yang begitu kuat dan iman yang tak tergoyahkan? Tentu karena anugerah Tuhan saja. Namun saya percaya bahwa Stefanus mengerti dan percaya akan pengharapan yang Tuhan berikan dalam kedatanganNya yang kedua kali. Percaya akan kemenangan pasti yang akan didapatkan orang percaya.

Perbedaan orang yang hidup berorientasi pada zaman ini dan kekekalan terlihat jelas dari bagaimana orang tersebut memandang pengharapan Kristus. Orang yang hidup berorientasi pada zaman ini melihat kematian Kristus memang telah menyelamatkan dirinya, namun tidak punya keyakinan akan hidup yang menang dari dosa. Sebaliknya, orang yang berorientasi pada kekekalan juga percaya kematian Kristus menyelamatkan dirinya juga, namun hal tersebut belum selesai sampai disana. Masih ada kemenangan besar yang belum digenapi sepenuhnya sebelum kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Dari sana akan timbul sebuah api yang berkobar yang terus siap sedia dipakai untuk mempersiapkan kedatanganNya yang kedua kali.


Kiranya kita semua dapat hidup tidak hanya melihat kematian Kristus yang di belakang kita, namun melihat juga kedatangan Kristus yang kedua kalinya sebagai sumber kekuatan bagi kita. Agar hidup kita boleh terus penuh dengan harapan dan terus berapi agar siap dipakai olehNya. Sehingga hidup kita yang hanya satu kali ini, boleh menjadi landasan untuk kedatanganNya yang kedua kalinya.


Comments