The Spiritual Bridge Part 1: The Problem


Ada sebuah masalah besar yang sering terjadi pada umat Kristen, terutama pada zaman ini. Orang Kristen memiliki kecenderungan untuk memiliki ketidaksinkronan antara prinsip kekristenan yang ada di otak dengan tindakan yang dilakukan. Jarak antara kedua hal ini kadang menjadi begitu jauh sampai kita dapat melakukan hal-hal yang kita tahu itu salah berdasarkan Alkitab, namun tetap kita lakukan. Padahal mungkin Firman mengenai hal ini secara spesifik sudah sering disampaikan melalui mimbar, namun tetap saja kita terus berdosa.

Akar dari permasalahan terjadinya jarak ini adalah ketika kita sudah mulai menjadi orang yang menganut dualisme. Dualisme adalah paham dimana kita memisahkan hidup kita di gereja dan di luar gereja, hidup sekuler dan hidup rohani. Hal ini jelas menentang ajaran Alkitab untuk hidup secara utuh seperti Kristus. Namun definisi dari zaman postmodern ini terhadap agama telah membuat kekristenan menjadi sebuah agama. Alhasil hidup kekristenan yang seharusnya menjadi  utuh justru malah menjadi terfragmentasi.

Jika kita memfragmentasikan hidup kita, itu berarti bahwa Kristus hanya menjadi sekadar bagian dalam hidup kita.  Padahal Alkitab menyatakan bahwa Kristus harus menjadi yang terutama dan merajai seluruh bagian hidup kita. Dari sanalah tumbuh buah dari iman kita kepada Tuhan. Tanpa menjadikanNya raja atas hidup kita, maka kita tidak akan mendapatkan apapun. Kristus berkata kita hanya dapat mengabdi pada 1 Allah, kita harus memilih Kristus atau mammon yang mewakili hal duniawi.

Terputarbaliknya segala ajaran ini diakibatkan oleh gereja yang sudah mulai melenceng dari ajaran yang sejati. Dari waktu ke waktu, jumlah gereja yang mulai tidak mengabarkan Injil yang sejati semakin bertambah. Hal ini dapat terjadi karena sejak zaman renaissance, manusia  mulai menyadari bahwa diri mereka memiliki hal yang dapat diandalkan selain Tuhan. Semakin lama manusia menjadi semakin otonom atas diri mereka sendiri dan tidak mau lagi tunduk kepada siapapun, bahkan kepada Tuhan sekalipun. Hal ini mengakibatkan semakin sedikit orang yang mau tunduk pada Injil yang sejati. Alhasil, gereja-gereja yang tidak setia kepada Firman yang sejati mulai mengkompromikan ajaran mereka agar disukai orang banyak.

Dengan semakin sedikitnya gereja yang mau mengajarkan doktrin yang benar dan mengabarkan Injil yang sejati, maka pola pikir umat Kristen akan semakin rusak. Bahkan mereka yang menerima ajaran yang benar pun akan sedikit banyak terpengaruh oleh dunia ini. Ini akan berujung kepada jarak antara pikiran dan tindakan yang semakin jauh dan semakin tidak terseberangi. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah jembatan, yang kembali menghubungkan apa yang ada di pikiran kita yang merupakan ajaran-ajaran gereja dengan tindakan kita.

Part 2: http://gratiascriptura.blogspot.com/2013/04/the-spiritual-bridge-part-2-solution.html




Comments